Novi Christiastuti Adiputri - detikNews
Ilustrasi
Sabah - Pemerintah Malaysia berencana
memindahkan penduduk yang menghuni wilayah-wilayah dekat lokasi
bentrokan berdarah di Sabah. Hal ini demi memudahkan aparat Malaysia
untuk menumpas kelompok bersenjata asal Filipina yang menyusup dan masih
bersembunyi di wilayah tersebut hingga sekarang.
Perdana Menteri
Malaysia Najib Razak mengumumkan langsung rencana ini kepada publik.
Namun di sisi lain, rencana pemindahan ini dinilai sebagai bukti bahwa
penyusupan lebih dari 200 anggota kelompok bersenjata asal Filipina
telah menjadi masalah keamanan yang besar di wilayah Sabah, yang dekat
dengan wilayah perbatasan Filipina bagian selatan.
"Penyebab
utama dari invasi para teroris ... adalah keberadaan daerah-daerah
pemukiman yang sangat rentan terhadap penyusupan oleh imigran gelap dan
orang-orang tanpa kewarganegaraan," ujar PM Najib Razak seperti dilansir
AFP, Senin (25/3/2013).
Lebih lanjut, PM Najib hanya
mengatakan, bahwa relokasi akan dilakukan terhadap warga yang tinggal di
wilayah pemukiman dekat lokasi konflik. Tidak menutup kemungkian, area
yang direlokasi akan meluas hingga ke seluruh wilayah Sabah, yang selama
berabad-abad terakhir berbatasan langsung dengan perairan Filipina
bagian selatan.
Namun sayangnya, PM Najib tidak menyebutkan lebih
lanjut soal detail rencana relokasi tersebut, baik pelaksanaan waktu
maupun lokasinya.
Oleh sejumlah pihak, rencana relokasi ini
dinilai akan menambah tugas pemerintah Malaysia untuk memperketat
pengawasan di wilayah Sabah. Sebab, selama ini Malaysia cenderung lunak
dalam memfasilitasi para imigran asing dalam jumlah besar dengan
kewarganegaraan tidak jelas. Hingga saat ini saja diketahui ada sekitar
800 ribu warga Filipina yang tinggal di wilayah Sabah, yang berpenduduk 3
juta jiwa.
Bentrokan berdarah di Sabah berawal ketika sekitar
200 pengikut Sultan Sulu tiba di wilayah ini pada 9 Februari lalu dengan
menggunakan kapal. Kedatangan mereka untuk mengklaim tanah yang menurut
mereka merupakan milik leluhur mereka berdasarkan dokumen-dokumen
sejarah.
Baku tembak dengan aparat Malaysia pun tak terhindarkan.
Hingga saat ini tercatat lebih dari 70 orang, sebagian besar pengikut
Sultan Sulu, tewas dalam bentrokan tersebut.
Pekan lalu,
pengadilan Malaysia mengadili 8 warga negara Filipina atas dakwaan
terorisme. Kedelapan warga Filipina ini terancam hukuman mati karena
terlibat dalam bentrokan berdarah di Sabah, Malaysia.
Kedelapan
orang yang diadili ini merupakan kelompok pertama yang disidangkan
terkait konflik Sabah. Mereka adalah bagian dari 100 orang yang
ditangkap oleh aparat Malaysia karena diyakini terlibat konflik Sabah.
Delapan orang ini dijerat bermacam dakwaan, mulai dari menyembunyikan
orang-orang yang terlibat aksi terorisme, hingga melancarkan perang
melawan raja Malaysia.